Dalam Pendidikan Calon
Guru Penggerak mengkaji Modul 1.1 tentang Filosofi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
dan di Modul 1.1.a. 9 Calon Guru Penggerak diharuskan mengkaji hubungan
filosofi Ki Hajar Dewantara dengan materi lain yang relevan.
Dalam
mengembangkan pendidikan di Indonesia banyak filosofi pemikiran beliau yang
menginspirasi bidang pendidikan saat ini. Berikut filosofi pemikiran Ki Hajar
Dewantara : Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa tujuan pendidikan adalah
kemerdekaan sehingga untuk mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia haruslah
pintar dan berpendidikan. Dengan memperoleh pendidikan maka seseorang akan
memperoleh kemerdekaan, merdeka untuk menentukan nasibnya sendiri, merdeka
mengemukakan pendapatnya, merdeka untuk mendapatkan kesejahteraan seperti yang
dijamin dalam Pasal
27 ayat 1 dan 2 , Pasal 28 dan Pasal 29 UUD 1945
Buah
pemikiran Ki Hajar Dewantara lainnya adalah Pendidikan Bukan hanya menekankan
pada aspek intelektual belaka tapi pada penanaman karakter dan budi pekerti.
Pendidikan yang hanya menitik beratkan pada intelektual tanpa mempertimbangkan
aspek cipta, rasa, karsa dan karya maka akan menghasilkan manusia tidak
sempurna. Dalam
menyelenggarakan pengajaran dan didikan kepada rakyat, Ki Hajar menganjurkan
agar kita tetap memperhatikan ilmu jiwa, ilmu jasmani, ilmu keadaban dan
kesopanan (etika dan moral), ilmu estetika dan menerapkan cara-cara pendidikan
yang membangun karakter. Dihubungkan dengan penerapan Kurikulum 2013 maka
pembelajaran meliputi 3 aspek yaitu Sikap (KI.1) yang meliputi aspek sikap
spritual dan sikap sosial, Pengetahuan (KI.2) dan Keterampilan (KI.3). Sehingga
dalam melakukan proses pengajaran tentunya memerlukan keseimbangan ketiga aspek
tersebut.
Filosofi
pemikiran Ki Hajar Dewatara tentang penanaman karakter dihubungkan dengan Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) merupakan kebijakan pendidikan yang tujuan utamanya adalah untuk
mengimplementasikan Nawacita Presiden Joko Widodo – Jusuf Kalla dalam sistem
pendidikan nasional. Kebijakan PPK ini terintegrasi dalam Gerakan Nasional
Revolusi Mental (GNRM) yaitu perubahan cara berpikir, bersikap, dan bertindak
menjadi lebih baik. Nilai-nilai utama PPK adalah religius, nasionalis, mandiri,
gotong royong, integritas. Nilai-nilai ini ingin ditanamkan
dan dipraktikkan melalui sistem pendidikan nasional agar diketahui, dipahami,
dan diterapkan di seluruh sendi kehidupan di sekolah dan di masyarakat. PPK
lahir karena kesadaran akan tantangan ke depan yang semakin kompleks dan tidak
pasti, namun sekaligus melihat ada banyak harapan bagi masa depan bangsa. Hal
ini menuntut lembaga pendidikan untuk mempersiapkan peserta didik secara
keilmuan dan kepribadian, berupa individu-individu yang kokoh dalam nilai-nilai
moral, spiritual dan keilmuan. Memahami latar belakang, urgensi, dan konsep
dasar PPK menjadi sangat penting bagi kepala sekolah agar dapat menerapkannya
sesuai dengan konteks pendidikan di daerah masing-masing.
Selanjutnya
Ki Hajar Dewantara mengemukakan bahwa pendidikan haruslah menghamba pada anak.
Pendidikan haruslah berpihak pada anak. Lingkungan pengajaran harus bersahabat
dengan anak. Apabila dihubungkan dengan materi atau modul yang relevan tentunya
berkaitan dengan pembelajaran Abad 21. Kurikulum 2013 dipadukan dengan pembelajaran
abad 21. Terdapat elemen yang mampu merepresentasikan apa itu pembelajaran abad
21, diantaranya adalah Creativity and Innovation, Collaboration,
Communication, Critical Thinking and Problem Solving.
Selain Pembelajaran abad 21, filosofi Ki Hajar Dewantara tentang pendidikan menghamba pada anak dapat dikoneksikan dengan pendekatan diferensiasi, Pendekatan ini mengimplementasikan pembelajaran yang sesuai dengan cara belajar siswa. Pada sesi ini pengklasifikasian siswa dalam kelas seperti keahlian dan minat akan digolongkan. Dengan adanya diferensiasi ini guru akan lebih mudah mengenali kemampuan siswa secara optimal.
Sebelum mengkaji modul filosofi pemikiran Ki Hajar Dewantara pemahaman saya bahwa (1) percaya pada pemahaman tabularasa dimana anak lahir seperti kertas putih, untuk memberikan warna adalah tugas dari pendidik dan orang tua sehingga metode belajar disesuaikan dengan gaya dan sistem dari guru dan orangtua. (2) Kita sebagai guru tentunya sudah merancang bentuk pembelajaran sebelum hari mengajar. bahkan jauh sebelum rencana pembelajaran sudah dirancang. Dalam arti hal bahwa kita membuat perangkat pembelajaran dengan kondisi yang berbeda dengan waktu pelaksanaannya sehingga terkadang tidak sesuai dengan situasi dan kondisi siswa.
Setelah mengkaji Modul filosofi Ki Hajar Dewantara tentunya ada perubahan pola pemahaman dalam pembelajaran yaitu (1) anak terlahir telah memiliki kodratnya masing-masing baik kodrat alam maupun kodrat lingkungan. Tinggal bagaimana orang tua dan guru membentuk kodrat tersebut menjadi kepribadian dan potensi yang dimikili oleh anak. (2) Karena setiap anak memiliki kodratnya sendiri tentu perlakuan yang diberikan pun tidak selalu sama, termasuk ketika guru melakukan proses pembelajaran. Dalam pembelajaran harus mempertimbangkan kemajemukan yang dimiliki oleh anak. Salah satu cara yang ditempuh oleh guru dalam merangkul kemajemukan anak adalah dengan menerapkan pendekatan pembelajaran diferensiasi.
Perubahan
Konkrit yang dapat saya di kelas berdasarkan pemikiran Ki Hajar Dewantara
adalah dengan menerapakan pendekatan pembelajaran diferensiasi dengan harapan
guru memahami situasi dan kondisi siswa termasuk gaya belajar dan minta bakat
siswa sehingga pesan yang disampaikan dalam pembelajaran dapat diterima dengan
baik oleh siswa.

luar biasa, dari Calon Guru Penggerak ini nanti bakalan lahir lagi Dewantara-Dewantara lainnnya
BalasHapusMantap
BalasHapusbelajar sambil berbagi
BalasHapusGreat job, pak Utha!
BalasHapusterus memberi virus baik demi kamajuan pendidikan
BalasHapus